Join with us ! CHINESE INDONESIAN CLUB (group - facebook)

4 Jun 2009

joinfacebookgroupDi antara suku bangsa di dunia salah satu budaya dan tradisi yang sangat kompleks dan termasuk yang paling tua tentunya budaya dan tradisi Tionghoa.

Banyak dari kita yang sudah meninggalkan tradisi budaya Tionghoa, banyak dari kita yang sudah menanggalkan nama Tionghoa. Tetapi tidak dapat disangkal, diakui atau tidak, kita tetap Tionghoa. Indonesia yang Tionghoa ! Dan sungguh sayang kalau Tionghoa dengan warisan kekayaan budaya dan tradisinya sampai hilang di Indonesia, apalagi kalau secara sengaja kita hilangkan. Padahal sepatutnya menjadi kebanggaan buat kita. Padahal seharusnya telah menjadi bagian dan memperkaya budaya Indonesia.

Beruntunglah kita yang memiliki budaya. Yang meski telah berpendidikan tinggi dan hidup di lingkungan modern yang serba instan dan praktis ini, tak melupakan akar filosofi dan kekayaan budaya kita sendiri. Karena seperti kata peribahasa Mesir kuno, manusia tanpa budaya bagaikan kapal yang terombang-ambing tanpa tujuan.

Tidak benar orang yang tidak mengenal budaya Tionghoa bukanlah Tionghoa lagi…. Mari pertahankan budaya dan tradisi Tionghoa. Mari bergabung, saling belajar dan saling berbagi di CHINESE INDONESIAN CLUB (facebook - group)

– Dyfaim

———————————————————————————————————————————————

Chinese Indonesians (simplified Chinese: ???????; traditional Chinese: ???????; pinyin: Yndnx?y Hurn, Hakka: Thong ngin, Min: Teng lang, Indonesian: Tionghoa Indonesia, or (derisively) Cina totok) are ethnically Chinese people living in Indonesia, as a result of centuries of overseas Chinese migration.

Chinese Indonesian people are diverse in their origins, timing and circumstances of immigration to Indonesia, and level of ties to China. Many trace their origins to the southern parts of China, such as Fujian, Guangdong and Hainan provinces.

Broadly speaking, there were three waves of immigration of ethnic Chinese to Southeast Asia in general and Indonesia in particular. The first wave was spurred by trading activities dating back to the time of Zheng He’s voyage in the early 15th century, the second wave around the time of the Opium War, and the third wave around the first half of the 20th century.

Chinese Indonesians whose ancestors immigrated in the first and second waves, and have thus become creolised or huan-na (in Hokkien) by marriage and assimilation, are called Peranakan Chinese. The more recent Chinese immigrants and those who are still culturally Chinese are called Cina Totok.

Most Chinese who migrated to Indonesia came as traders or labourers. Colonial policies made it difficult for Chinese to acquire land, and the only region with a significant Chinese farmer population was West Kalimantan. The largest populations of Chinese Indonesians today are in the cities of Jakarta, Surabaya, Medan, Pekan Baru, Semarang, Pontianak, Makassar, Palembang,Bangka, Belitung and Bandung.

————————————————————————–—————-————————–

Sukubangsa Tionghoa (biasa disebut juga Cina) di Indonesia adalah salah satu etnis di Indonesia. Biasanya mereka menyebut dirinya dengan istilah Tenglang (Hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongnyin (Hakka). Dalam bahasa Mandarin mereka disebut Tangren (Hanzi: ??, orang Tang). Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa orang Tionghoa-Indonesia mayoritas berasal dari Cina selatan yang menyebut diri mereka sebagai orang Tang, sementara orang Cina utara menyebut diri mereka sebagai orang Han (Hanzi: ??, hanyu pinyin: hanren, orang Han).

Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya.

Setelah negara Indonesia merdeka, orang Tionghoa yang berkewarganegaraan Indonesia digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

* Asal kata Tiong Hoa
Tionghoa atau tionghwa, adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan Cina di Indonesia, yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin. Zhonghua dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai Tionghoa.

Wacana Cung Hwa setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Cina untuk terbebas dari kekuasaan dinasti kerajaan dan membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat. Wacana ini sampai terdengar oleh orang asal Cina yang bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan Orang Cina.

Sekelompok orang asal Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa perlu mempelajari kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan sekolah di Hindia Belanda, di bawah naungan suatu badan yang dinamakan Tjung Hwa Hwei Kwan, yang bila lafalnya diindonesiakan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah Cina menjadi Tionghoa di Hindia Belanda.

* Daerah Asal di China
Ramainya interaksi perdagangan di daerah pesisir tenggara Cina, menyebabkan banyak sekali orang-orang yang juga merasa perlu keluar berlayar untuk berdagang. Tujuan utama saat itu adalah Asia Tenggara. Karena pelayaran sangat tergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya para pedagang akan bermukim di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disinggahi mereka. Demikian seterusnya ada pedagang yang memutuskan untuk menetap dan menikahi wanita setempat, ada pula pedagang yang pulang ke Cina untuk terus berdagang.

Orang-orang Tionghoa di Indonesia, umumnya berasal dari tenggara Cina. Mereka termasuk suku-suku: Hakka, Hainan, Hokkien, Kantonis, Hokchia dan Tiochiu.

Daerah asal yang terkonsentrasi di pesisir tenggara ini dapat dimengerti, karena dari sejak zaman Dinasti Tang kota-kota pelabuhan di pesisir tenggara Cina memang telah menjadi bandar perdagangan yang ramai. Quanzhou pernah tercatat sebagai bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia pada zaman tersebut.

* Daerah Konsentrasi
Sebagian besar dari orang-orang Tionghoa di Indonesia menetap di pulau Jawa. Daerah-daerah lain di mana mereka juga menetap dalam jumlah besar selain di daerah perkotaan adalah: Sumatra Utara, Bangka-Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Lombok, Kalimantan Barat, Banjarmasin dan beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

* Hakka - Aceh, Sumatra Utara, Batam, Sumatra Selatan, Bangka-Belitung, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat,Banjarmasin, Sulawesi Selatan, Manado, Ambon dan Jayapura.

* Hainan - Riau (Pekanbaru dan Batam), dan Manado.

* Hokkien - Sumatra Utara, Pekanbaru, Padang, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa, Bali (terutama di Denpasar dan Singaraja), Banjarmasin, Kutai, Sumbawa, Manggarai, Kupang, Makassar, Kendari, Sulawesi Tengah, Manado, dan Ambon.

* Kantonis - Jakarta, Makassar dan Manado.

* Hokchia - Jawa (terutama di Bandung, Cirebon, Banjarmasin dan Surabaya).

* Tiochiu - Sumatra Utara, Riau, Riau Kepulauan, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat (khususnya di Pontianak dan Ketapang).

Di Tangerang Banten, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan, sehingga warna kulit mereka terkadang lebih gelap dari Tionghoa yang lain. Istilah buat mereka disebut Cina Benteng. Keseniannya yang masih ada disebut Cokek, sebuah tarian lawan jenis secara bersama dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda dan Melayu

———————————–———————————————————–——————-

cic3Arti Logo Chinese Indonesian Club :

* Bulatan merah putih melambangkan bendera nasional Indonesia yaitu Sang Merah Putih yang pertama kali digunakan oleh para pelajar dan kaum nasionalis pada awal abad ke-20 di bawah kekuasaan Belanda. Setelah Perang Dunia II berakhir, Indonesia merdeka dan mulai menggunakan bendera ini sebagai bendera nasional.

Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia.

* Bulatan merah dengan lima bintang melambangkan bendera nasional Republik Rakyat China atau “bendera merah lima bintang” (????, pinyin: w? x?ng hng q) diciptakan oleh Zeng Liansong, seorang seniman terkenal dari wilayah Ruian, Zhejiang.

Bendera ini memiliki simbol-simbol komunisme yang terkenal, seperti bidang berwarna merah dan bintang warna kuning. Bintang yang besar melambangkan kepimpinan Partai Komunis di Cina. Bintang-bintang yang kecil melambangkan empat buah kelas yang ada dalam sebuah masyarakat menurut paham komunis, yaitu: pekerja, petani, golongan kaya dan kapitalis yang patriotik. Pendapat yang lain mengatakan bintang yang besar melambangkan kaum mayoritas di negara Cina, yaitu suku Han, dan bintang-bintang kecil melambangkan masyarkat minoritas Tibet, Manchu, Mongol dan Uighur.

* Telapak tangan lima warna merefleksikan Say No To Racism.


TAGS cic


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post