Masjid Cheng Hoo-Surabaya

24 Oct 2009

chengho2Masjid Cheng Hoo didirikan 10 Maret 2002, adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Masjid Cheng Hoo merupakan masjid yang memiliki sejarah yang sangat menarik hal ini juga tampak dari arsitektur bangunannya yang dibuat dengan gaya khas Tiongkok. Awal mulanya adalah pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Yang kemudian Laksamana Cheng Hoo atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong atau Pompu Awang pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang. Selain itu dia juga sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Untuk mengenang perjuangan Cheng Hoo dan warga Tionghoa muslim juga ingin memiliki sebuah masjid dengan gaya Tionghoa maka pada tanggal 13 Oktober 2002 diresmikan Masjid dengan arsitektur Tiongkok, yang berdiri di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa).

Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jama’ah. Masjid Cheng Hoo berdiri diatas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Masjid Cheng Hoo juga memiliki delapan sisi dibagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Maknanya adalah angka 11 untuk ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/ kejayaan dalam bahasa Tionghoa).

Al Qur’an Mandarin
Bersampul kertas jenis art paper dengan ilustrasi kaligrafi, Juz Amma terbitan Yayasan Haji Cheng Hoo Indonesia (YMCHI) itu, sekilas tak berbeda dengan keluaran penerbit lain.

Yang membedakan adalah di sampulnya terdapat tulisan “Juz Amma 4 Bahasa Tuntunan Bagi Saudara Baru”. ”Saudara baru adalah sebutan untuk umat muslim Tionghoa. Sebab, di antara mereka kan ada yang baru memeluk Islam,” kata Bambang Sujanto, ketua umum YMCHI, yang juga pemrakarsa penerbitan Juz Amma itu.

Ketebalan Juz Amma itu mencapai 256 halaman. Memang, kumpulan ayat pendek dalam Alquran itu terdiri atas empat bahasa. Bahasa aslinya, Arab dengan tulisan Arab, dilengkapi cara baca yang ditulis dengan huruf Latin, kemudian terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain itu, ada terjemahan dalam bahasa -dan tulisan- Mandarin (huruf Han) dengan pin yin dan cara pengucapannya dalam huruf Latin.

Bagi Bambang -nama lengkapnya Muhammad Yusuf Bambang Sujanto- penerbitan buku tersebut merupakan cita-cita dan sebagian dari penebusan dosa. Waktu menerbitkan terjemahan itu pada 1995, Bambang mengaku belum banyak mengamalkan ajaran Islam. “Waktu mau membuat Juz Amma ini saya dikatakan, ‘wong salat durung bener wis nggawe Juz Amma Mandarin,” kenangnya. Namun, Bambang maju terus. Dia selalu punya jawaban bagi orang yang mencibirnya. “Saya jawab saja, kalau nunggu salat sempurna, kapan kita berbuat untuk agama,” katanya.

Cibiran tersebut bukan hanya karena salat Bambang dinilai belum benar, tapi juga latar belakang pendidikannya. “Lha gimana ndak dicibir, wong saya ini tidak lulus S-3,” katanya lantas tertawa. S-3 yang dimaksud Bambang adalah SD, SMP, dan SMA.

Pria yang punya nama Tionghoa Liu Min Yuan itu tidak ingat persis kapan ide membuat dan memulai mengerjakan Juz Amma itu. “Seingat saya 1995-an, tapi tepatnya saya tidak ingat,” katanya.

Yang jelas, tujuan utamanya membuat terjemahan itu untuk siar Islam kepada masyarakat Tionghoa. Dalam ajaran Islam, tutur Bambang, tidak boleh memaksakan orang untuk masuk Islam. ”Dengan Juz Amma itu masyarakat Tionghoa yang belum memeluk Islam dapat membaca dan memahami Islam melalui ayat-ayat Alquran,” katanya.

Bambang mengaku waktu itu belum bisa memberikan banyak penjelasan tentang Islam. “Waktu itu saya tidak bisa ngaji. Gimana bisa menunjukkan keagungan ajaran Islam kalau orang nanya,” katanya. “Lha kalau ada encik-encik (sapaan untuk orang Tionghoa yang lebih tua) itu tanya saya tentang Islam, kan mudah. Tinggal saya beri Juz Amma ini, mereka bisa baca dan mengerti indahnya Islam,” lanjutnya.

Bambang menilai usahanya membuat Juz Amma empat bahasa itu biasa-biasa saja. “Tidak ada istimewanya kok. Kan sebelumnya di beberapa negara sudah ada Alquran terjemahan Mandarin. Nah saya tinggal mengartikan huruf Mandarin ke pin yin saja,” ungkap pria yang baru dinobatkan sebagai tokoh Pembauran oleh APDI (Assosiasi Profesi Dakwah Indonesia) itu.

Ada tujuh macam tulisan pada tiap-tiap ayat dalam Juz Amma tersebut. Pertama, tulisan huruf Arab seperti umumnya dalam Alquran. Kedua pelafalan bahasa Arab dengan tulisan Latin. Ketiga, terjemahan bahasa Indonesia. Baris keempat terjemahan bahasa Inggris. Kelima terjemahan bahasa Mandarin dengan tulisan Han (huruf Mandarin) seperti yang ada dalam Alquran terjemahan Mandarin.

Keenam, pin yin, bacaan huruf Mandarin yang ditulis dalam huruf Latin. Kemudian di baris terakhir Bambang menambahkan cara pengucapan ejaan tulisan pin yin itu. “Baris terakhir itu tulisan karaoke, atau cara pengucapan tulisan pin yin-nya. Itu saya buat untuk orang yang belum bisa membaca ejaan pin yin,” jelas Bambang.

Dia perlu menambahkan tulisan pin yin karena selama ini buku-buku panduan bahasa Mandarin sangat minim. “Apalagi waktu zaman Orde Baru, tahu sendiri kan gimana kondisinya,” katanya. Selain itu, pin yin dimaksudkan untuk mempermudah orang mengucapkan bahasa Mandarin secara tepat.

Selama ini, lanjut Bambang, kalaupun ada Alquran terjemahan Mandarin, umumnya hanya tulisan Han, tidak ada ejaan pin yin. “Di Arab dan di Tiongkok mungkin ada Alquran terjemahan Mandarin. Tapi, kalau membaca huruf Han (Mandarin)-nya belum bisa, bagaimana mau mempelajarinya,” katanya. ”Nah itulah makanya kita terbitkan cara membaca huruf Han,” sambung penasihat DPP Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI) itu.

Bambang tidak menampik bahwa muslim Tionghoa di Indonesia umumnya tidak mengerti benar cara membaca tulisan Han. Bahkan, saat mendirikan PITI beberapa tahun lalu, dia disambati beberapa kerabatnya yang mualaf tentang susahnya mencari Alquran berbahasa Mandarin. “Saya makin tergugah membuat Juz Amma itu saat sowan ke encik-encik. Mereka mengeluhkan susahnya mencari Alquran terjemahan Mandarin di Indonesia,” kenang direktur Kita Group itu.

Usaha Bambang menerbitkan Juz Amma sempat menemui kendala dari pemerintah. “Ya, tahu sendiri waktu Orde Baru bagaimana. Karena Juz Amma ini saya diperiksa tiga hari berturut-turut oleh kejaksaan,” kenang bos Amien Bank itu.

Padahal, selama proses pembuatan, dia melibatkan pihak MUI, Depag, beberapa kiai NU dan Muhammadiyah untuk mengoreksinya. “Itu juga yang menyebabkan pembuatannya lama. Sebenarnya kalau translate-nya sih cepat,” katanya. Translate dari tulisan Han ke pin yin dilakukan Bambang sendiri.

“Kalau waktu senggang tak garap, terutama malam hari. Namun, untuk mengecek pin yin-nya saya libatkan beberapa ahli bahasa Mandarin,” tuturnya. Terjemahan bahasa Inggris sudah ada sehingga tidak rumit. ”Tapi, tetap saya minta tolong ahli bahasa Inggris untuk koreksi,” katanya.

Selain untuk siar, Bambang punya niat lain dengan penerbitan Juz Amma itu. Yakni, mendirikan masjid. Dikerjakan sejak 1995, Juz Amma tersebut baru bisa diedarkan pada 2001. “Ya, karena banyak kendala itu,” katanya.

Cetak pertama 10.000 eksemplar habis terjual. Dia mengantongi untung sekitar Rp 500 juta. “Uang itu seluruhnya masuk ke Yayasan (YMCHI), digunakan untuk membeli tanah dan bangun masjid itu (Masjid Cheng Hoo, Red),” tuturnya. Cetakan kedua 50.000 eksemplar. “Terakhir cetak lagi pada 2007, sekarang masih tersisa beberapa,” katanya.

Meski penjualannya tergolong berhasil, Bambang mengaku distribusinya masih terkendala. “Distribusinya selama ini dari mulut ke mulut, tidak ada toko buku yang mau menjadi distributor,” katanya. ”Ya, mungkin mereka terlalu menghitung untung dan dianggap bukan barang yang cepat laku,” lanjutnya. Kendala itu tak membuat Bambang surut. Bahkan, dia berobsesi mewujudkan Alquran empat bahasa.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post